Senang. Siapa tidak senang berjalan beriringan dengan lelaki idaman? Ya, aku menyebutmu lelaki. Seseorang yang energik, ramah, menyenangkan, dan membuatku nyaman.
Tidak mudah untukku. Sulit. Berhari-hari, minggu, bulan, terus aku coba. Melupakan sosokmu. Melupakan perhatianmu. Melupakan segalanya. Disaat aku terus memanggil namamu, disaat itu juga aku tahu kamu memanggil namanya. Ya. Dia. Seseorang yang baik yang kukenal. Seseorang yang sangat baik. Terlalu baik.
Sakit? Tentu saja. Kamu boleh anggap aku kekanak-kanakan. Kamu boleh anggap aku tak punya hati. Tapi aku tak bisa pungkiri rasa di hati. Sakit. Ya. Ini sakit. Sangat sakit. Kamu lukiskan lagi luka di hati, sementara yang lama belum pulih. Aku pikir kamu datang untuk mengobati. Tapi terkecoh aku ini. Kamu datang; lalu pergi lagi. Hanya untuk sekedar bilang; tak lagi ada aku di hati.
Berlebihan? Ya. Kamu pasti anggap aku berlebihan. Kamu anggap aku tak dewasa. Tapi rasa sakit dan kecewa ini lebih besar dari yang kamu kira. Kamu tak pernah tahu apa yang sebenernya terjadi. Karena kamu tidak bertanya padaku; kenapa. Kamu sibuk meyakinkanku bahwa aku dan dia selamanya. Teman baik. Tidak boleh rusak karena yang sepele. Tanpa pernah kamu bertanya; kenapa saat itu aku marah.
Karena saat itu, selalu bayang-bayangmu yang ada di setiap hari-hariku. Ya. Setiap hari. Meski lebih dari setengah tahun berlalu semenjak kita tidak bersatu, tetap kamu yang ada di bayangku. Jangan salahkan aku. Jangan kira aku tidak mencoba untuk melupakanmu. Menghapus nomormu, fotomu, bahkan semua coretan namamu di bukuku. Sudah tidak ada. Tapi tetap kamu. Saat itu.
Saat itu. Tolong garis bawahi. Ini tulisan tentang aku yang mengingat rasa kecewaku. Bukan maksud untuk menyampaikan apa yang kurasa sekarang. Ah, tidak. Aku bukan mengelak. Ini memang kenyataannya.
Tenang saja, kawan. Rasa sayangku untuk kalian lebih besar dari yang kalian kira. Aku cukup dewasa untuk melihat kalian bahagia bersama. Aku tak cukup tega melihat kalian bersedih. Ya, kalian. Dua orang yang aku sayangi. Dua orang yang akan selalu ada di hati.
Dia, begitu baik. Ya, teman dekatku. Sosok perempuan yang dewasa, ceria, idaman semua laki-laki. Aku takkan rela ada orang yang mengiris hatinya. Tak akan ku biarkan satu orang pun. Termasuk kamu. Sudah cukup kamu lakukan itu padaku. Jangan dia. Jangan lukai hatinya. Jangan pernah.
Kamu, begitu baik. Sekarang, tampaknya kamu sudah lebih dewasa. Mungkin aku tak sebut kamu lelaki lagi. Mungkin pria. Ya. Dengan dunia barumu, tampaknya kamu jauh lebih baik dari sebelumnya. Lebih memahami segalanya. Duniamu yang baru seperti magnet positif. Ya, dunia barumu itu. Dengan dia.
Aku menyayangi kalian sepenuh hati. Tak tahu bagaimana harus berkata. Aku sayang kalian.
Ini hanya tulisan sembari tak ada kerjaan. Hanya goresan kata-kata, tentang rasa sayang, dengan orang-orang yang aku banggakan.
No comments:
Post a Comment