Perlahan luka itu pergi. Kemana ya? Entah aku tak mengerti. Satu-satunya yang aku ketahui, hati ini sudah pulih. Pulih dari goresan pedih itu. Pulih dari segala irisan yang tak menentu.
Aku tak rasa apa-apa. Sungguh, ini yang terjadi. Sekarang semua menjadi abu-abu. Tak percaya lagi semua orang yang ada di dekatku. Hati-hati. Itulah aku yang sekarang. Jadi lebih teliti.
Tapi sekarang menjadi lebih merah muda. Bahagia. Akhirnya semua itu terlewati. Waktu dimana aku sendiri. Waktu dimana tak seorang pun bagai merpati dimataku. Semua bagai cahaya gelap yang menyesatkan. Tak ada yang aku percaya. Ya, seorang pun. Itu semua sudah berlalu. Kini, aku menjadi seseorang yang baru.
Seseorang yang merah muda. Bergelora bahagia. Melupakan segalanya; yang negatif tentunya. Aku anggap semua itu sebagai pelajaran. Pelajaran hidup yang tak mungkin aku lupakan. Fase-fase hidupku sebagai remaja; lengkap sudah. Setidaknya aku sudah pernah merasakan jatuh cinta diam-diam, bertepuk sebelah tangan, jatuh hati dari lubuk yang terdalam, kekecewaan teramat sangat, dan air mata pilu karena pupus cinta. Haha.
Oh, tidak. Belum lengkap ternyata. Ini hanya sebagian titik kecil dari goresan kehidupan yang sebenarnya. Ini belum seberapa. Kenapa aku harus terpuruk seakan tak berdaya? Sedangkan aku tahu, ini hanya seujung kuku lika-liku kehidupan.
Sembuh. Aku sembuh dari pedih itu. Pedih yang membawaku menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang lebih dewasa.
Mungkin kamu tidak tahu apa maksudku. Hiraukanlah. Hanya aku dan batinku yang tahu.
No comments:
Post a Comment